Seandainya Bunga-Bunga ini Dapat Berbicara

Seandainya bunga-bunga ini dapat berbicara.⁣

Mungkin tempat ini menjadi lebih pantas disebut rumah. Aku akan mendengar suara lain selain gema suaraku dan suara air mendidih pada pagi dan sore hari. Mungkin juga akan ada orang yang menjawab pertanyaan-pertanyaanku setiap pagi, siang, sore, dan malam.⁣

Tapi kenyataannya bunga-bunga ini tidak dapat berbicara. Tempat ini terlalu hening untuk disebut rumah. Hanya ada suaraku dan suara air mendidih pada pagi dan sore hari, dan tidak ada satu pun pertanyaanku yang menemukan jawaban.⁣

“Kapan aku akan mati?” lagi, kutanya bunga-bunga di halaman rumahku seraya menyiraminya dengan air. Tidak ada jawaban–seperti biasa, hanya daunnya sedikit bergoyang terkena air. Lihatlah mereka begitu cantik, dengan kelopak berwarna merah muda yang indah, juga daun-daun yang sehat berwarna hijau. Mereka terus berkembang semakin banyak memenuhi halaman rumahku. Mereka yang menemaniku sepanjang hari. Sayang sekali, mereka tidak dapat bicara.⁣

Biar kuceritakan sedikit kisah tentangku dan bunga-bunga ini.⁣

Tempat yang kusebut rumah ini dulu adalah rumah yang sebenarnya. Bersama seorang wanita pemilik senyum paling memikat di dunia. Kami membangun rumah dan mengisinya dengan buku-buku. Setiap pagi dan sore kami minum teh bersama di beranda sambil mendiskusikan bacaan yang sedang dan telah kami baca. Kami tidak pernah kehabisan bacaan, buku di rumah kami ada banyak sekali. Rasanya hampir semua mimpi kami telah menjadi kenyataan di rumah kami yang nyaman.⁣

Ya, hampir semua mimpi kami kenyataan. Kecuali satu, yaitu memiliki anak-anak yang lucu dan mengajarkan mereka membaca setiap pagi dan sore di beranda. Sebuah kecelakaan membuat wanita pemilik senyum paling memikat di dunia yang menjadi istriku tidak dapat mengandung. Aku dapat menerima keputusan semesta dengan cepat, tapi tidak baginya. Dunia berubah menjadi abu-abu. Cukup lama tidak ada obrolan di pagi dan sore hari tentang buku-buku. Hanya ada isak tangis. Buku-buku kami berdebu dimakan waktu.⁣

Namun bunga-bunga menyelamatkan istriku. Entah siapa yang memengaruhi istriku, dia mulai menanam bunga di halaman rumah kami yang tidak terlalu luas. Semakin hari, halaman rumah kami semakin penuh dengan bunga-bunga. Setiap pagi dan sore dia akan sibuk menyirami bunga-bunga kesayangannya. Ritual minum teh kami kini diisi dengan obrolan tentang bunga-bunga.⁣

“Mulai sekarang, mereka adalah anak-anak kita.” ujarnya. Senyum paling memikat itu kini telah kembali. Dia menyayangi bunga-bunganya. Aku turut menyayangi bunga-bunga itu. Setiap pagi dan sore kami menatap bunga-bunga seperti orang tua yang menatap anak-anaknya bermain di halaman. Hidup kami kembali terasa bahagia.⁣

Terkadang istriku membacakan dongeng untuk anak-anak kami. Terkadang dia juga memintaku yang membacakan dongeng untuk mereka. Kami memang tidak dapat mengajari anak-anak kami membaca, tapi kami dapat membacakan cerita apa saja untuk mereka. Istriku akan berteriak senang jika di pagi hari menemukan satu kuncup bunga yang baru, atau mengomel kalau ada ulat atau binatang lain mengganggu anak-anak kami. Seorang ibu pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya.⁣

Hal itu berlangsung cukup lama. Hingga waktu membawa kami pada masa senja. Kami berubah menjadi sepasang kakek dan nenek yang mencintai bunga-bunga. Meskipun begitu, tetap saja senyum istriku adalah senyum paling memikat di dunia.⁣
Waktu berlalu begitu cepat. Kebahagiaan kami ternyata membuat kami lengah. Masa tua adalah masa yang begitu dekat dengan kematian. Aku tak menyadari itu sampai ia dengan licik merenggut istriku dari pelukanku, dari rumah kami.⁣

Tepat di hari ulangtahunku yang ke 70, kematian mengambil senyum paling memikat di dunia dari istriku. Dia menutup matanya dan tak pernah membukanya lagi. Dunia menjadi lebih kelabu dari waktu kamu mengetahui bahwa tidak akan ada anak-anak terlahir dari rahim istriku. Aku merasa menjadi manusia paling lemah karena tidak bisa melindungi istriku dari kematian. Aku masih bisa menerima kenyataan bahwa istriku tidak dapat mengandung, tapi menerima kenyataan bahwa istriku telah pergi ternyata begitu sulit. Bunga-bunga ini dapat menggantikan anak-anakku, tapi tidak dapat menggantikan istriku.⁣

Kini hanya ada aku dan bunga-bunga–anak-anak kami–yang masih memenuhi halaman depan rumah ini. Ah bahkan aku sudah tidak ingin menyebut tempat ini rumah. Dindingnya terlalu dingin, udaranya terlalu sesak, dan terlalu hening. Hanya ada ritual minum teh di pagi dan sore hari, tanpa obrolan tentang bunga-bunga atau buku-buku. Dua gelas teh yang selalu kubuat bahkan tidak pernah cukup hangat untuk menghangatkan hatiku.⁣

“Jadi kapan aku mati?” tanyaku lagi. Tidak ada satupun dari bunga-bungaku yang menjawabnya.⁣

Seandainya bunga-bunga ini dapat bicara. Mungkin tempat ini menjadi lebih pantas disebut rumah. Aku akan mendengar cerita mereka tentang ibu mereka–istriku–yang memiliki senyum paling memikat di dunia. ⁣

Seandainya bunga-bunga ini dapat bicara, setidaknya aku tidak akan mati perlahan dibunuh oleh kesepian. Aku ingin mati dengan perasaan bahagia.⁣

#BerbalasFiksi⁣

Iklan

Lelaki yang Mencintai Laut (Cerpen)

Hari Minggu adalah hari yang menyebalkan bagiku, karena pagi-pagi sekali ayah akan membangunkanku dan menyuruhku bersiap-siap. Kami akan pergi ke pantai. Memang terlihat menyenangkan ketika menghabiskan waktu di akhir pekan bersama keluarga di pantai. Tapi yang terjadi pada keluargaku justru sebaliknya. Pergi ke pantai sama sekali tidak menyenangkan lagi, apalagi jika harus dilakukan setiap minggu.

Seperti biasa ayah sudah menyiapkan semuanya. Mobil sudah bersih, bensin diisi penuh untuk perjalanan yang cukup jauh, bahkan ayah sudah membuatkan nasi goreng untuk makan siang di pantai. Bawa bekal biar lebih hemat, katanya. Sesekali ayah menggodaku untuk membawa pelampung dan mainan untuk membuat istana pasir—yang sudah pasti kutolak karena aku sudah terlalu dewasa untuk bermain istana pasir. Tak lupa pula satu hal yang selalu ayah siapkan adalah buket bunga mawar putih. Setelah semuanya siap, kami langsung berangkat menuju pantai.

Kota tempatku tinggal tidak memiliki pantai, karena itu kami harus ke luar kota jika ingin ke pantai. Sudah pasti perjalanan ke pantai tidak sebentar. Biasanya hari sudah siang ketika kami sampai, dan udara akan menjadi sangat panas. Setelah perjalanan yang membuat badan pegal-pegal, panasnya udara akan menyengat kulit, sangat menyebalkan. Begitu pun waktu untuk pulang dari pantai. Ayah baru akan memutuskan pulang setelah matahari benar-benar menghilang di cakrawala. Kami kembali menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan, hari sudah sangat larut ketika kami sampai di rumah. Kami tidak bisa menginap di hotel dekat pantai karena aku harus sekolah. Keesokan harinya aku akan terbangun dengan badan yang kelelahan. Semuanya terus berulang setiap minggu.

Kami juga tidak bisa pergi ke pantai sehari sebelumnya karena ayah masih sibuk mengurusi rumah makannya yang selalu ramai. Hanya hari Minggu ayah meliburkan pekerjaannya. Itu sudah perjanjian, katanya. Berkali-kali juga aku menolak untuk ikut ke pantai, namun ayah akan memarahiku. Aku harus selalu ikut. Ayahku di hari Minggu sungguh menyebalkan

“Kamu tadi terlalu lama mandinya. Lihat sudah siang begini kita baru berangkat!” Gerutu Ayah ketika mobil kami baru meluncur ke jalanan.

“Aku mengantuk, Yah. Setiap hari harus bangun pagi, bahkan di hari Minggu!” Keluhku.

“Ya kan bisa tidur di mobil.” Ayah masih tidak mau kalah.

“Ya kan Ayah juga bisa ke pantai tanpa aku!”

“Hush! Jangan begitu! Nanti Lidya marah kalau aku tidak membawamu!”

Aku memandang ke arah jendela dengan gusar. Malas melanjutkan percakapan. Jika sudah seperti ini, aku tidak bisa melawan ayah. Mau tidak mau aku harus mengikutinya. Aku tidak mengerti mengapa ayah tidak merasa lelah. Padahal besok juga dia harus kembali mengurusi rumah makannya dari pagi sampai larut. Tapi setiap hari Minggu, ayahku seakan memiliki energi cadangan yang membuat lelah setelah bekerja dari hari senin sampai sabtu hilang begitu saja.

*

Udara panas langsung menyengat kulitku ketika kami sampai. Aku masih berdiri di depan mobil sedangkan ayah sudah melenggang ke bibir pantai bersama sebuket bunga mawar putih di tangannya. Kutatap punggung ayahku yang semakin menjauh itu. Ada sengatan di dadaku ketika melihat lelaki itu terus berjalan menuju laut.

Sebenarnya bukan karena  panas atau lelah yang membuatku malas ke pantai setiap hari Minggu. Tetapi karena ayahku dan segala kesedihan yang kurasakan. Hari Minggu adalah hari ketika aku melihat ayahku menjadi orang asing. Dia seakan berada dalam dunia yang berbeda denganku. Meskipun aku harus selalu ikut dengannya ke pantai, tapi pada kenyataannya dia ada dalam dunianya sendiri. Meninggalkanku yang hanya menatapnya dengan sedih. Ayahku yang kukenal hanya ada di hari Senin sampai Sabtu, sedangkan ayah yang selalu bersamaku di hari Minggu adalah sosok yang tidak kukenal lagi.

“Sudah kubilang kita terlalu siang. Lidya akan kepanasan menunggu kita!” Ayah menggerutu ketika debur ombak menjilati kakinya yang tanpa alas. Aku mencoba mengawasi tak jauh di belakangnya. Debur ombak sudah membasahi kakiku.

Ayah melarungkan buket bunga mawar putih yang sedari tadi di pegangnya ke laut.  Detik berikutnya debur ombak sudah menggulung buket tersebut, menariknya ke tengah laut.

“Lidya, kalau marah, wajahnya akan bersemu merah, matanya akan mendelik, dan bicaranya sangat ketus. Tapi di sana aku melihat dia cantik sekali.” Gumam ayah seraya memandang ombak yang terus menggulung buket mawar putih menjauhi bibir pantai.

Aku segera memasang earphone di telingaku. Kuputar musik dengan suara penuh dari gawai ucapan-ucapan ayah tidak lagi kudengar. Kemudian aku mencari tempat yang cukup teduh untuk duduk. Mendengarkan ayah bicara di hari yang panas ini hanya akan membuat darahku naik.

Ayah tidak beranjak dari bibir pantai. Sesekali dia berlari mundur menghindari ombak yang akan menjilat kakinya. Seperti bermain kejar-kejaran bersama ombak. Senyum lebar tak pernah lepas dari wajahnya. Ayah tampak sangat ceria. Aku tersenyum melihatnya, namun ada rasa getir yang menjalari hatiku setiap kali melihat pemandangan itu.

“Ayah, aku ingin pulang.” Ujarku ketika hari mulai gelap. Awan hitam tampak sudah menggantung rendah di langit dan angin berembus lebih kencang.

“Ayah masih ingin bersama Lidya.” Jawab Ayah. Pandangannya menatap lurus ke arah laut.

“Ayah, sebentar lagi hujan!” Aku mulai kesal. Ayah menatapku, tersenyum.

“Kamu kalau marah, mirip sekali dengan Lidya. Tunggu sebentar, Laras. Kita harus pulang bersama Lidya.”

“Cukup Ayah!” Aku berteriak tidak tahan lagi. “Jangan sebut-sebut nama Ibu lagi! Ibu sudah meninggal!”

“Laras! Jaga ucapanmu!” Ayah tersulut emosinya.

“Ayah yang seharusnya menjaga ucapan! Ayah seharusnya sadar dan menerima kenyataan! Aku hampir gila melihat Ayah terus seperti ini!”

“Laras—“

“Tolong, Ayah! Aku sudah menderita dengan kehilangan Ibu. Tolong jangan membuatku lebih menderita lagi dengan bersikap seperti ini!”

Angin berembus semakin kencang dan pantai semakin sepi. orang-orang sudah beranjak menghindari hujan. Tetapi ayah sama sekali tidak berpindah dari tempatnya berdiri. tatapannya lurus menatap lautan tak berujung. Tatapan kosong yang menyedihkan.

Hampir tiga bulan berlalu sejak hari paling buruk itu datang. Ketika televisi dan media sosial memberitakan sebuah kecelakaan pesawat di laut Utara. Ketika aku baru saja akan memulai pelajaran pertama di sekolah, ayah sudah datang menjemputku lagi untuk kemudian berangkat ke bandara. Tak pernah ada yang menduga pesawat itu akan jatuh tiga belas menit setelah lepas landas, termasuk aku dan ayah yang tak dapat menerima kenyataan dengan mudah bahwa Lidya, ibuku, adalah salah satu penumpang dari pesawat yang jatuh itu. Kemarin ibu hanya pamit akan pergi ke kota di pulau sebrang untuk mengurus pekerjaannya, dan tadi subuh—bahkan sebelum aku bangun—ibu sudah berangkat ke bandara untuk mengejar jadwal penerbangan pertama.

Saat itu aku sangat kalut, dan ayahku seribu kali lebih kalut daripada diriku. Ketika kami sampai di bandara, ayah membentak banyak orang. Ayah menyalahkan pihak bandara atas kecelakaan yang terjadi. Hari kedua ayah mengusir orang-orang yang datang ke rumah kami untuk berbelasungkawa, dia dengan yakinnya mengatakan bahwa ibu selamat—meskipun belum ada kabar sama sekali. Seminggu setelah kecelakaan itu, ibu tetap tidak ada kabar. Beberapa korban sudah teridentifikasi, namun lebih banyak lagi yang tidak ditemukan, dan nama ibu tidak termasuk ke dalam data korban yang teridentifikasi. Hingga akhirnya tim penyelamat menghentikan pencarian, ibu belum ditemukan juga. Informasi terakhir yang kami dapatkan adalah bahwa semua orang yang ada di dalam pesawa itu tidak ada yang selamat.

Hari-hari berlalu dengan kelabu. Kerabat dan keluarga terus berdatangan ke rumah dan ayah sudah terlalu lelah untuk mengusir mereka. Ayah hanya mengurung diri di kamarnya ketika rumah kami ramai. Berhari-hari sampai akhirnya ayah keluar dari kamar dan bersikap seolah semuanya tidak pernah terjadi. Ayah kembali menjadi ayah yang ceria, dia mulai pergi ke rumah makannya lagi seperti sebelumnya. Kupikir ayahku sudah bisa tabah dan menerima kenyataan. Namun tidak ketika hari Minggu datang. Ayah mulai mengajakku ke pantai dengan membawa buket bunga mawar putih untuk melarungkannya ke laut. Minggu pertama aku ikuti keinginan ayah itu dengan sepenuh hatiku. Berharap kesedihan lepas seiring dengan lepasnya buket itu ke tengah laut. Minggu-minggu selanjutnya, aku mulai kehilangan sosok ayahku juga.

“Ayo kita pulang dan berhenti larut dalam rasa sedih seperti ini, Ayah.” Ajakku dengan lirih setelah cukup lama kami bergeming. Gerimis mulai mengguyur pantai. Ayah akhirnya mengangguk, kami berjalan beriringan menuju parkiran.

“Minggu depan kita jemput ibu ya, Laras.” Gumam Ayah. Dia terus melangkah mendahuluiku menuju mobil.

Hujan kian menderas seiring mataku yang semakin deras mengeluarkan air.

 

 

24 Jam Bersama Gaspar: Saya Tertipu dalam Waktu Kurang dari 24 Jam!

Liburan yang menyenangkan ketika saya mengikuti Gaspar merencanakan perampokan terhadap sebuah toko emas. Saya dibuat penasaran dan terus mengikutinya. Gaspar menurut saya sosok yang misterius dan tidak bisa ditebak—atau Gaspar memang tidak ingin pikirannya ditebak orang lain. Sejak awal, saya menebak-nebak sosok Gaspar dan semua rencana gilanya. Namun di bagian akhir, tebakan saya tidak ada satu pun yang benar.

Saya begitu penasaran dengan isi kotak hitam yang menjadi tujuan perampokan, namun ternyata ada hal yang lebih mengejutkan daripada isi dari kotak hitam itu, menyebalkan sekali si Gaspar! Saya tertipu. Dia berhasil mengalihkan perhatian saya dari tujuan utamanya. Selain itu, saya juga dibuat tertawa-tawa sepanjang mengikutinya dan teman-temannya, kemudian saya dibuat tidak bisa tertawa sama sekali di akhir cerita. Saya habiskan rasa kaget saya dengan tidak berhenti membaca bagian akhir, dan tanpa sadar ceritanya sudah selesai.

Hal yang saya senangi dari Gaspar adalah kepintaran—atau keanehan—dia. Sifatnya yang tidak suka diperintah orang lain, suka menolong orang yang dia anggap sebagai temannya, dan seenaknya mengganti nama orang. Gaspar juga banyak gaya dengan omongannya yang so berani namun tidak pernah terbukti—ini sebenarnya saya kurang suka jika ada di dunia nyata. Saya rasa Gaspar memiliki hidup yang berat, namun dia menghadapi kehidupannya dengan jalan yang unik.

Tokoh yang saya senangi selain Gaspar adalah Ibu Tati. Saya senang karena sikap Ibu Tati yang membuat orang harus bersabar jika mengobrol dengannya, karena dia akan terus berbicara seolah Pak Bachtiar suaminya masih ada di dunia ini. Kalau orang yang baru bertemu dengannya pasti akan mengira ucapan Ibu Tati benar. Ibu Tati mengingatkan saya pada nenek yang rumahnya ada di dalam lingkungan SMP saya. Beliau adalah istri dari mendiang pendiri sekolah. Saya senang sekaligus ngeri bila mengobrol dengan Eneh—begitu saya dan teman-teman memanggilnya—karena Eneh akan berbicara seolah suaminya masih ada. Eneh akan mengomel jika murid-murid SMP berisik. Beliau bilang, itu mengganggu suaminya yang sedang tidur siang. Sekira lima tahun lalu, Eneh berpulang menyusul suaminya. Beberapa orang tua di dunia ini mungkin memang didera penyakit seperti itu, bukan hanya pikun, tapi ingatannya berdiam di masa lalu. Sehingga kenyataan terkadang tidak bisa diterima dengan baik olehnya. Maka saya senang dengan Ibu Tati karena mengingatkan saya pada sosok Eneh, Emah (nenek saya), serta nenek-nenek dalam hidup saya yang juga pikun.

Ada lagi tokoh yang membuat saya kagum, meskipun tidak pernah muncul secara langsung. Babaji, sopir keluarga Gaspar. Karena menurut saya, secara tidak langsung Babaji telah menyelamatkan Gaspar dari kehancuran keluarganya dan membuat Gaspar seperti yang saya temui sekarang. Saya rasa Babaji adalah sosok yang lebih penting untuk Gaspar daripada kedua orangtuanya.

Sosok misterius yang sampai membuat saya googling adalah Arthur Harahap. Beberapa kali nama ini muncul dalam cerita, bahkan dia yang memberi pengantar. Saya cari informasi mengenai Arthur Harahap di internet, tapi tidak ada. Hal yang membuat saya penasaran adalah karena nama ini juga muncul di kumcer “Bakat Menggonggong” karya Mas Dea Anugrah, mengingat Mas Dea dan Mas Dio (Sabda Armandio, penulis 24 Jam Bersama Gaspar) adalah teman, jadi saya pikit sosok Arthur Harahap adalah sosok penting untuk keduanya. Wahaha teori macam apa ini.

Namun hal terpenting yang saya dapatkan setelah mengikuti Gaspar selama kurang dari 24 jam adalah bahwa segala sesuatu yang dilakukan atas dasar “demi kebaikan” terkadang bukanlah hal yang baik. Gaspar dan teman-temannya membuat saya menyadari bahwa definisi kebaikan dan kejahatan di dunia ini sebenarnya abu-abu.

Saya sedikit menyesal karena selalu melewatkan buku ini dari daftar buku yang harus saya baca karena setiap melihat covernya, saya tidak merasa tertarik untuk meembacanya (makanya don’t judge the book by cover Nig!). Terima kasih Mas Dio sudah mengenalkan saya kepada Gaspar dan kawan-kawannya. Menurut saya, buku yang bagus adalah buku yang membuat pembacanya merasa sedih karena telah selesai membacanya, dan 24 Jam Bersama Gaspar telah membuat saya sedih karena selesai membacanya—bahkan dalam waktu kurang dari 24 jam.

Cikalong Wetan, 4 Januari 2019

Menyadari Kebodohan Diri Sendiri

Buku pertama yang saya baca di tahun 2019 cukup membuat saya merasa sangat bodoh. Bukan karena tulisannya yang sulit dipahami, tetapi karena ternyata masih banyak sekali hal yang belum saya ketahui di dunia ini. Melalui “Bakat Menggonggong”-nya Mas Dea Anugrah, saya diajak menemui hal-hal baru sekaligus menuntut saya untuk lebih banyak mengeksplorasi hal-hal baru lainnya. Buku yang tipis namun membuat saya merasa sia-sia hidup selama 20 tahun ini setelah membacanya.

Benar kata teman saya, tidak cukup membaca buku ini hanya satu kali—apalagi setelah menyadari betapa bodohnya diri ini. Sebenarnya Mas Dea hanya mengisahkan hal-hal yang sudah sering menjadi tema cerita-cerita di dunia ini, seperti kisah cinta, patah hati, persahabatan, pengkhianatan, juga beberapa yang diambil dari dongeng-dongeng yang sudah ada (ralat bila saya salah). Namun gaya ceritanya yang baru saya rasakan membuat saya nekaat menamatkan buku ini dalam waktu satu hari. Kisah sedih tidak perlu dikemas dengan menyedihkan, kemarahan tidak perlu ditunjukan dengan hal-hal yang membuang tenaga, namun dengan sindiran-sindiran dan umpatan yang cerdas membuat buku ini menyenangkan untuk saya baca. Sisana memang lebih banyak tidak mengerti—sudah saya bilang saya merasa bodoh setelah membaca buku ini.

Buku ini juga menunjukkan seberapa jauh jarak saya dengan Mas Dea sebagai penulisnya Maksud saya, betapa banyaknya pengetahuan Mas Dea sampai-sampai saya harus bersusah payah mengejarnya dan tidak terkejar juga. Dongeng-dongeng lama yang diceritakan berdasarkan gayanya, humor-humor yang hanya dimengerti oleh orang-orang yang rajin membaca buku, bahkan kosakata yang membuat saya harus membuka KBBI ketika membaca buku ini. Ini alasan saya harus membaca buku ini berkali-kali—dan tentu saja dengan lebih banyak lagi belajar dan membaca banyak hal.

Salah satu kutipan yang paling saya senangi adalah “Kau jangan mati dulu, besok kuceritakan yang lebih menarik.” dari cerpennya yang berjudul Tamasya Pencegah Bunuh Diri. Ketika saya membaca itu, seakan-akan Mas Dea ingin menyampaikan kalau saya harus membaca bukunya berulang-ulang, jangan berhenti dulu, sebelum saya memahami sepenuhnya isi dari bukunya. Hahaha

 

Cikalong Wetan, 2 Januari 2019img20190104162301

#BukuTerbaikQ 2018

Cukup sulit memikirkan buku mana yang paling berkesan dalam satu tahun ini. Karena setiap buku baru yang saya baca, selalu berisi cerita baru yang mengesankan. Tapi aturan proyek bulan Desember ini adalah harus memilih satu buku saja yang paling berkesan. Setelah satu bulan ini memikirkan buku yang paling membuat saya jatuh hati, akhirnya pilihan saya jatuh pada satu buku keren.

Laut Bercerita, judul buku dengan penulis yang baru saya dengar–Leila S. Chudori. Betapa terlambatnya saya mengenal penulis perempuan keren ini. Padahal karya-karyanya sering saya temui. Saya langsung jatuh cinta ketika membaca Laut Bercerita. Selain karena yang menarik, juga sesuai dengan topik yang saya senangi.

Novel ini berlatarkan Indonesia menjelang reformasi 1998. Namun bukan itu poin utama yang Leila angkat dalam novelnya, tapi mengenai orang-orang yang harus kehilangan orang terkasihnya tanpa kejelasan, bahkan hingga saat ini. Tentang seorang ibu yang selalu menunggu anaknya yang tidak pernah kembali ke rumah, tentang seorang adik yang berusaha mencari keberadaan sang kakak, tentang seorang teman yang merasa bersalah karena kebebasannya, sedangkan yang lain tidak diketahui rimbanya.

Sisi lain dari reformasi yang tidak diungkap dalam buku-buku sejarah anak sekolah adalah praktik pembungkaman yang dilakukan oleh rezim Orde Baru. Sebelum reformasi pecah, siapapun yang berlawanan dengan mereka, akan menjadi sasaran penangkapan. Banyak yang kembali memang, namun tak sedikit pula yang lenyap tanpa jejak apapun.

Dalam Laut Bercerita, Leila menggunakan dua sudut pandang, yaitu sudut pandang Biru Laut sebagai representasi dari mereka yang dihilangkan, dan sudut pandang Asmara Jati sebagai wakil dari orang-orang yang kehilangan. Sejak awal, saya langsung jatuh cinta kepada Laut. Laut dan teman-temannya membuat saya dapat merasakan berada di posisi mereka yang mendapat berbagai penyiksaan karena mencoba menyuarakan kebenaran. Betapa menyedihkan, betapa tidak pantasnya para penyiksa itu disebut manusia.

Kemudian Asmara Jati membuat saya turut merasakan kehilangan yang berkepanjangan. Ketidakjelasan dan kebingungan harus menuntut pertanggungjawaban kepada siapa. Betapa keluarga yang kehilangan harus bahu-membahu dan saling menguatkan, betapa susahnya menjaga kewarasan di antara orang-orang yang terus mengenang dan mengenang. Sedangkan keadaan yang tampak dibuat seakan tidak pernah terjadi apa-apa.

Sampai saat ini perasaan sakit hati dan kehilangan Biru Laut masih membekas dalam diri saya. Novel ini membuat saya hampir menangis, apalagi ketika Mbak Leila menceritakan langsung proses beliau menuliskan kisah ini.

Setelah membaca Laut Bercerita, saya jadi mengerti maksud orang-orang yang konsisten melaksanakan kegiatan “Kamisan”. Mereka adalah keluarga dan orang-orang yang terus berusaha meminta pertanggungjawaban mengenai orang-orang yang hilang.

Memang tulisan sangat subjektif dan melibatkan perasaan. Namun tidak dapat dipungkiri, selalu ada sisi menyedihkan dalam sejarah. Mengetahui sejarah dari segala sudut pandang adalah hal yang sangat penting agar kita tidak membenarkan atau menyalahkan sesuatu dengan instan.

Loh kok jadi seserius ini ya proyek Desember kita? Haha
Ini hanya pratinjau secara umum, lain kali saya akan ulas lebih mendalam lagi Laut Bercerita.


#BukuterbaikQ